Logo Pengadilan Negeri Palopo
Pembaruan terakhir: Selasa, 18 September 2018
shade

KISAH SUKSES EKSEKUSI ANAK DI PA. LAMONGAN

Sebuah Kado Istimewa Di Peringatan Hari Anak Nasional

(Eksekusi yang cukup menegangkan, mendebarkan, berakhir dengan derai air mata bahagia).

 

Perjuangan panjang seorang perempuan muda desa yang lugu, tamat SMK dan berprofesi sebagai penjahit bernama Fitriah. Ia memperjuangkan haknya sebagai pemegang hadhanah untuk anak kandungnya yang pada saat itu masih berumur 1 tahun. Proses hukum dilaluinya hingga tingkat kasasi. Menapaki waktu selama tiga tahun tanpa kenal lelah dan dengan rasa optimis berbuah manis. Derai ai mata bahagia setelah dapat memeluk sang buah hati si kecil Kanindya.

Bermula dari perkara gugatan hadhanah di Pengadilan Agama Lamongan kelas I A dengan nomor perkara 2510/Pdt.G/2016/PA. Lmg. Perempuan muda itu memenangkan perkara hingga tingkat kasasi (putusan banding nomor perkara 220/Pdt.G/PTA. Sby tanggal 3 Mei 2017 dan putusan kasasi nomor 583 K/AG/2017 tanggal 28 September 2017.  Namun demikian, kemenangan itu tidak serta merta memperoleh haknya.  Jangankan hak asuh yang dapat diperoleh, akses pertemuan dengan si kecil Kanindya sama sekali tidak ada. Upaya untuk menemui sang buah hati dengan mengunjungi rumah mantan suaminya tidak pernah berhasil karena apabila motor yang dikendarainya terdengar berhenti oleh keluarga mantan suaminya, pintu rumah langsung ditutup rapat.  Jika menitipkan barang seperti susu maupun boneka mainan kepada tetangga sang mantan suami untuk diberikan kepada sang buah hati, itupun tidak sampai karena menurut tetangganya tidak pernah diambil.  Kepedihan bathinnya tidak membuatnya mundur untuk memperjuangkan hak asuh sebagai naluri bagi seorang perempuan.

       Tidak pernah berhenti berjuang dengan didampingi pengacaranya dari LBH Al-Banna, Ia kemudian  mengajukan permohonan eksekusi di Pengadilan Agama Lamongan. Permohonan eksekusi ke Pengadilan Agama Lamongan pada tanggal 22 Januari 2018.

 

      Eksekusi anak merupakan hal yang sangat sensitif dan rentang tidak berhasil karena sangat berpeluang membawa pergi ataupun menyembunyikan anak pada saat eksekusi, ditambah paktor psikologi anak yang harus dipertimbangkan agar tidak menimbulkan trauma yang dapat berpengaruh dan tumbuh kembang si anak.  Itulah sebabnya sebagai ketua Pengadilan Agama Lamongan, ekstra sangat hati-hati menangani proses eksekusi ini dengan berbagai upaya antara lain membangun komunikasi berbagai pihak.

Konsultasi dengan Kapolres Lamongan

       Langkah awal yang ditempuh untuk penangan proses eksekusi adalah membangun komunikasi dengan kapolres lamongan untuk berbagi pengalaman dalam penangan kasus-kasus anak, dan dari komunikasi yang berulang kali, walaupun tidak secara formal namun dilakukan disela-sela kegiatan PEMDA Lamongan mengingat KPA. Lamongan Dr. Hj. Harijah D., M.H. masuk sebagai anggota FORKOMPIMDA. Dari beberapa bincang-bincang dengan Kapolres Lamongan, Harijah mendapat inspirasi untuk membangun komunikasi lebih lanjut dengan berbagai komunitas dan mengutamakan proses eksekusi dengan pendekatan persuasif dan humanis.

Aanmaning dua kali.

         Aanmaning pertama tanggal pihak Termohon eksekusi (ayah kandung perempuan kecil

Kanindya) tidak hadir, namun dengan pertimbangan eksekusi ini adalah eksekusi anak yang perlu pendekatan persuasif dan mengupayakan berdialog secara humanis dengan pihak Termohon Eksekusi, di lakukan Aanmaning kedua kalinya walaupun sebelum ketua pengadilan Agama Lamongan telah mendengar informasi bahwa Termohon eksekusi sangat keras, tetapi tetap melakukan upaya agar eksekusi dapat dilakukan dengan baik tanpa harus mengorbankan anak kecil dengan trauma akibat eksekusi yang prosedural formalistik. Pada Aanmaning kedua kalinya, Termohon eksekusi diwakili oleh kuasa hukumnya dan pada kesempatan itu, ketua pengadilan agama Lamongan banyak memberikan nasehat untuk melaksanakan putusan secara sukarela dengan pertimbangan yang akan dieksekusi adalah anak.

Melakukan Konseling (TIM P2TP2A Kab. Lamongan).

 eks anak3

Setelah Aanmanning, ternyata Termohon eksekusi tetap tidak melaksanakan putusan secara sukarela sehingga ketua PA. mengeluarkan penetapan eksekusi, namun demikian pendekatan dan komunikasi untuk kedua belah pihak tetap dilakukan serta menugaskan jurusita untuk memantau kondisi dan latar belakang Termohon Eksekusi untuk mengetahui lebih jauh kondisi emosional Termohon eksekusi dan keluarga si kecil Kanindya dengan melibatkan Kepala Desa dan perangkatnya. Pendekatan persuasif dilakukan untuk menghindari penyerahan anak secara paksa yang tentunya secara psikologis akan berpengaruh pada tumbuh kembangnya anak di masa akan datang, konseling juga dilakukan oleh tim P2TP2A Kab. Lamongan yang terdiri dari Ketua Majelis Hukum dan HAM Aisyiah Kab. Lamongan, seorang Psikologi perempuan, dua orang dari Perlindungan anak Pemkab Lamongan, masing-masing 1 orang dari perlindungan anak Polres Lamongan, Polsek dan Koramil. Pendampingan dilakukakan oleh tim P2TP2A Kab. Lamongan secara berkesinambungan sebelum dan sesudah permohonan eksekusi diajukan.

 

PELIBATAN PSIKOLOG MEMEGANG PERANAN PENTING

          Pada saat eksekusi, kondisi sangat menegangkan dan mendebarkan para eksokutor dari PA. dan TIM Pendamping yang hadir karena ternyata anak yang akan diseksekusi tidak berada ditempat dan tidak diketahui dimana tempat disembunyikan oleh sang kakek dan nenek si kecil Kanindya. Proses eksekusi sangat alot dan terjadi dialog seluruh perwakilan pihak yang hadir dalam proses eksekusi termasuk tim P2TP2A Kab. Lamongan yang terdiri dari Ketua Majelis Hukum dan HAM Aisyiah Kab. Lamongan, seorang Psikologi perempuan, dua orang dari Perlindungan anak Pemkab Lamongan, masing-masing 1 orang dari perlindungan anak Polres Lamongan, Polsek dan Koramil yang dipimpim oleh Panitera PA. Lamongan Fagih Abdullah, dengan dialog yang humanis dan persuasif tergeraklah hati Termohon Eksekusi untuk menunjukkan tempat si kecil Kanindya disembunyikan. Selanjutnya Psikolog mengatur srategi pertemuan di dalam rumah yang hanya dihadiri Pemohon dan Termohon Eksekusi, si kecil Kanindya dan perwakilan dari Aisyiah. Dalam pertemuan tersebut berhasil meluluhkan hati Termohon eksekusi untuk menyerahkan anaknya secara baik-baik.

Kekuatan Perempuan Mampu Membuat Perubahan

           Tim P2TP2A Kab. Lamongan yang kesemuanya perempuan-perempuan dari berbagai profesi di samping mampu mencairkan Kekakuan hati Termohon eksekusi dan keluarganya, juga dengan kasih sayang keibuan, mampu mewujudkan suasana yang nyaman bagi anak ketika dikeluarkan dari persembunyiannya dan penyerahannya pun sangat baik dari Ayah kandungnya ke perempuan Muda Pitriah. Untuk menghindari trauma si anak, Termohon eksekusi dan keluarganya mengantar sikecil Kanindya, lagi-lagi berkat hasil konseling psikolog dan timnya. Di perjalanan pun di kecil Kanindya diatur singgah bermain di tempat permainan anak untuk mengatur strategi berikutnya. Psikolog dan perwakilan dari Aisyiah mendahului rombongan untuk memberikan konseling kepada keluarga Pemohon eksekusi agara menerima dengan baik kedatangan Termohon eksekusi dan keluarganya demi kepentingan si kecil Kanindya.

Suasana anak ketika dikeluarkan dari persembunyiaannya dan dalam gendongan neneknya disambut dengan kasih sayang dang senyuman oleh TIM P2TP2A Kab. Lamongan. Senyuman tulus dari mereka menjadikan anak sangat nyaman. Kondisi ini sengaja diatur oleh TIM P2TP2A agar anak tidak mengalami trauma. Senyuman diiringi tetas air mata kebahagian tak tertahanakan wajah-wajah perempuan hebat dari TIM P2TP2A. Lamongan.

 

 

 

 

Si kecil Kanindya setelah diserahkan secara baik oleh Termohon Eksekusi kepada Pemohon Eksekusi, perempuan muda bernama Pitriah, perempuan desa yang lugu, tamat SMK dengan prosefesi sebagai penjahit.

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah Pengalaman Melaksanakan bagian akhir dari tugas pokok Pengadilan dan Semoga dapat menjadi inspirasi.

 

Pencarian

Informasi Cepat

  • 1
A- A A+

Alih Bahasa